Daerah  

Ayah, Pemimpin, Sahabat: Pagi Itu Bersama SBS di Tanah Abang

Screenshot 20250604 101830 Facebook 260596997

RAEBESINEWS.COM – Jakarta, pagi hari. Hujan semalam menyisakan embun di jendela-jendela tinggi ibu kota. Jalanan Tanah Abang mulai menggeliat, para pedagang kaki lima menata dagangan, kendaraan saling beradu klakson, dan waktu terus berdetak, menuju sebuah peristiwa penting di jantung kekuasaan negeri ini: pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Malaka di Istana Negara.

Namun bagi Henri Melki Simu, pria bersahaja dari Selatan Nusa Tenggara Timur yang dikenal masyarakat dengan nama HMS, hari itu bukan hanya tentang sumpah jabatan, bukan hanya tentang tongkat kekuasaan. Pagi itu adalah kisah tentang hubungan manusia. Tentang kasih. Tentang seorang pria yang baginya SBS bukan hanya bupati, bukan hanya pemimpin, tapi seorang ama, seorang ayah.

Baca Juga: Gubernur NTT Terima Wakil Bupati Malaka, Bahas Jalan Rusak dan Pendidikan Menengah Atas

Dari Hotel Amaris tempat ia dan keluarganya menginap, HMS berjalan dengan langkah yang ringan tapi tegap. Setelan jas rapi, dasi hitam membalut lehernya. Ia menuju Hotel Asley, tempat SBS menginap bersama keluarganya. Dalam diam, HMS tahu: dalam momen besar seperti ini, ia ingin berada di sisi SBS, kakak sekaligus pemimpin yang selama ini menuntunnya dengan tenang dalam badai dan terang.

Setibanya di Hotel Asley, HMS disambut hangat oleh keluarga besar SBS. Peluk tangan dan senyum menyebar, mencairkan suasana formal menjadi kehangatan kekeluargaan. Dari ruang tengah yang tenang, suara SBS terdengar ramah:

“Mari bapak HMS, kita foto bersama sebelum ke Istana Negara.”

Baca Juga: Kritik Tanpa Data: Aksi Mahasiswa yang Tergesa dan Tersesat di Malaka

Keduanya berdiri berdampingan. Namun sejurus kemudian, HMS menyadari ada sesuatu yang berbeda. Dasi yang dikenakan SBS bukan hitam seperti yang disarankan protokol. Tapi kuning. Terang, berani, dan sedikit ganjil di tengah aturan yang kaku.

SBS juga menatap HMS dengan penuh selidik, lalu bertanya:

“Kenapa pakai hitam?”

HMS menjawab jujur, “Katanya harus hitam, bapak, sesuai protokoler yang dianjurkan.”

SBS tersenyum kecil, mata tuanya bersinar lembut.

“Tidak pengaruh itu. Jangan kaku terlalu dengan aturan. Intinya kita tidak melakukan kesalahan fatal. Saya punya dasi warna kuning dua. Satunya saya pakai sekarang, dan satunya saya kasih ke HMS. Biar nanti kita berdua sendiri yang kuning di Istana Negara.”

Baca Juga: Koalisi Pembangunan: Malaka dan Pemprov NTT Satukan Langkah untuk Rakyat

Kata-katanya bukan sekadar candaan. Di dalamnya terkandung pesan yang dalam: keberanian untuk berbeda, keyakinan pada prinsip, dan semangat untuk menyatu sebagai satu jiwa dalam kepemimpinan. SBS memanggil salah satu anggota keluarga untuk mengambil dasi kuning yang lain.

Beberapa menit kemudian, dasi itu sampai di tangan SBS. Tanpa banyak kata, SBS berdiri, melangkah ke arah HMS. Dengan tangan sendiri, ia mengikatkan dasi itu ke leher HMS. Gerakannya pelan, sabar, seperti ayah yang membenahi seragam anaknya di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah.

“Saya ini bapak yang siap melayani masyarakat Malaka, termasuk wakil bupati,” ucap SBS lirih, tapi tegas.

HMS berdiri membatu. Suasana mendadak khidmat. Tak ada keramaian Jakarta yang mampu mengganggu kesunyian batin yang meluap saat itu. Ia ingin berkata sesuatu, tapi lidahnya kelu. Yang tersisa hanyalah rasa haru dan kekaguman.

Baca Juga: Wabup HMS Berkunjung ke PUPR Provinsi NTT: Dua Ruas Jalan Provinsi di Malaka Siap Diperbaiki Tahun Ini

Kebapakan SBS bukan sekadar gaya memimpin, ia adalah cara hidup. Di balik ketegasan dan kedisiplinannya yang dikenal luas, ada kelembutan yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang berjalan bersamanya dari dekat. SBS tidak banyak bicara soal kasih, tapi ia menunjukkannya lewat tindakan. Lewat cara ia mendengar, cara ia memanggil, cara ia berbagi, bahkan lewat hal sederhana seperti dasi berwarna kuning.

Kuning, dalam konteks ini, bukan hanya simbol cerah dan gembira. Ia adalah warna keberanian. Warna yang keluar dari pakem, tapi justru membawa kehangatan. Dan pagi itu, dua lelaki dari Timur Indonesia melangkah ke Istana Negara dengan dasi kuning yang memancarkan kepercayaan diri dan kebersamaan yang tulus.

Di tengah para pejabat yang berbaris rapi, di antara warna-warna gelap yang formal dan seragam, dua dasi kuning itu berdiri berbeda. Tapi bukan berbeda karena ingin mencolok. Mereka berbeda karena berasal dari hubungan yang lebih dalam dari sekadar politik. Mereka berbeda karena saling percaya.

Baca Juga: Jaga Batas dan Bangsa: Suara Prabowo Dari Jakarta disambut SBS di Malaka Batas Negara

Pelantikan usai. Jabatan telah diberikan. Tangan telah bersalaman dengan Presiden. Tapi bagi HMS, momen paling tak terlupakan bukanlah ketika namanya disebut dalam SK. Bukan saat menyanyikan lagu kebangsaan atau menandatangani dokumen negara. 

Momen paling membekas justru ketika tangan SBS mengikatkan dasi kuning di lehernya. Di sana, HMS merasa lebih dari sekadar seorang wakil bupati. Ia merasa seperti anak yang diterima dengan penuh kasih, diberkati oleh seorang ayah sebelum berangkat menunaikan tugas besar.

Terima kasih, Bapak SBS.

Karena menjadi pemimpin yang tak hanya memerintah, tapi mengasihi.

Karena menjadi ayah yang tak hanya menuntun, tapi mengikatkan dasi di pagi penuh makna.

Karena telah membuat kepemimpinan menjadi ruang keluarga, bukan ruang takhta.

Dalam politik, sering kali kita hanya melihat struktur, kekuasaan, dan formalitas. Tapi kisah kecil seperti ini mengingatkan kita bahwa di balik jabatan, ada jiwa-jiwa yang saling menopang. Dasi kuning itu bukan hanya aksesori. Ia adalah bahasa kasih yang tak banyak diucapkan, tapi hadir dan menetap dalam setiap simpulnya.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *