Daerah  

HMS, Pemimpin yang Menyatu dengan Rakyat: Ketika Jabatan Menjadi Ladang Pengabdian

Screenshot 2025 08 07 21 30 55 58 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7 2426216141

RaebesiNews.com – Tidak banyak pejabat publik yang bisa dilihat saban hari di sawah, di pasar, di halaman sekolah, atau di tenda duka. Tapi Henri Melki Simu (HMS), Wakil Bupati Malaka, memilih jalur berbeda.

Ia tidak menjadikan jabatannya sebagai tembok, tetapi sebagai jembatan. Ia tidak duduk di menara gading kekuasaan, tapi berdiri di tengah debu kehidupan rakyatnya.

Dalam pandangan Roy Tey Seran, seorang tokoh pemuda Malaka, HMS adalah cerminan dari pemimpin yang bukan hanya bekerja dari balik meja, tapi bekerja dari balik hati.

Seorang pemimpin yang tidak melulu bicara angka dan program, tapi berbicara dengan warga, mendengarkan mereka, memahami luka mereka, dan berusaha menyembuhkannya dengan kehadiran dan tindakan.

“Kadang Ia menjadi Petani. Kadang Ia menjadi Pengawas. Kadang Ia menjadi Pendoa. Kadang Ia menjadi Anggota Dewan. Kadang Ia menjadi masyarakat biasa. Kadang Ia menjadi Peternak. Kadang Ia menjadi Petugas Kebencanaan. Kadang Ia menjadi Dokter. Kadang Ia menjadi Guru. Dan seringkali Ia menjadi pendengar dan penolong warga Malaka yang mengeluh padanya,” ujar Roy dalam pernyataannya kepada media.

Ungkapan ini bukan puisi. Ini adalah kesaksian hidup yang nyata.

Sosok Serba Bisa dan Rendah Hati
Pernah suatu hari, HMS terlihat membantu petani menanam jagung di lahan kering. Di hari lain, ia memantau langsung pembangunan ruang kelas di sebuah sekolah terpencil.

Esoknya, ia menemani korban bencana alam di tenda pengungsian, membawa bantuan dan harapan. Ia juga hadir di forum-forum resmi, menjembatani aspirasi masyarakat dengan kebijakan daerah.

Dalam banyak kesempatan, HMS memilih untuk berbicara dengan rakyat bukan sebagai atasan, melainkan sebagai sesama warga Malaka.

Ia duduk sejajar, mendengar tanpa menggurui, dan menjawab dengan kerja nyata. Dalam diamnya, banyak warga yang merasa dimengerti. Dalam kesederhanaannya, banyak warga yang merasa dikuatkan.

Pemimpin yang Menjadi Telinga dan Tangan

Keistimewaan HMS tak hanya terletak pada keberadaannya di lapangan, tetapi juga pada kemampuannya menjadi pendengar sejati. Ia adalah pemimpin yang tidak hanya bicara, tapi juga menyimak.

Ia tahu bahwa sebagian besar keluhan rakyat butuh ruang untuk diceritakan, bukan langsung dipatahkan dengan data atau alasan teknis.

Seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Laenmanen pernah berkata, “Pak Wakil itu seperti anak kandung Malaka. Datang kalau kami susah, dengar kami curhat, lalu bantu. Kadang dia tidak janji, tapi esok lusa ada orang dari kantor camat atau dinas datang urus masalah kami. Itu yang kami percaya.”

Menjadi Semua Demi Rakyat

Ada masa HMS terlihat menjadi guru, mengajar anak-anak tentang pentingnya kebersihan lingkungan. Ada masa ia seperti dokter, mendampingi warga yang sakit, bahkan kadang mengantar mereka ke puskesmas. Ia pernah terlihat menjadi petugas kebencanaan, turun langsung saat banjir menggenangi desa-desa di Malaka Barat.

Dan semua peran itu dijalaninya bukan sebagai pencitraan, tetapi sebagai panggilan. Sebab ia percaya bahwa jabatan hanya alat, bukan tujuan.

Tujuan sesungguhnya adalah mengangkat harkat rakyat Malaka, menghadirkan keadilan sosial, dan membangun Renu Rai Malaka dari akar.

Pujian Bukan untuk Disembah, Tapi untuk Diwarisi

Roy Tey Seran menutup pernyataannya dengan kalimat sederhana namun menyentuh:

“Terima kasih Pemda Malaka. Terima kasih Bapak HMS atas kerja-kerja nyata untuk Renu Rai Malaka.”

Kalimat itu bukan sekadar pujian, tetapi doa dan harapan. Doa agar Malaka terus memiliki pemimpin-pemimpin yang seperti HMS, rendah hati, penuh kasih, dan tidak pernah lelah mendengar.

Harapan agar generasi muda Malaka belajar dari keteladanan ini, bahwa menjadi pejabat bukan tentang kehormatan pribadi, tapi tentang menjadi pelayan bagi sesama.

Dalam zaman ketika kepercayaan publik terhadap pemerintah kerap luntur oleh janji kosong dan kebijakan elitis, sosok seperti HMS menjadi oase. Ia tidak sempurna, tentu.

Tapi dari jejak langkahnya yang berdebu di jalan desa, dari peluh yang menetes di ladang bersama petani, dari air mata yang ia seka di tenda duka, kita tahu: ada cinta yang nyata untuk Malaka.

Dan cinta yang seperti itu tidak pernah sia-sia.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *