Opini  

Ulang Tahun Simon Nahak dan Rumah Sakit yang Tak Pernah Hidup di Malaka

Screenshot 20250531 110947 WhatsApp 2246882299

Opini Oleh: Frido Umrisu Raebesi 

RaebesiNews.com – Pada 13 Juni 2024, Simon Nahak meniup lilin ulang tahunnya di Wewiku. Ada tawa, ada sorakan, ada lampu sorot kamera yang berkedip. Di belakang panggung, terdapat plakat peresmian Rumah Sakit Pratama Wewiku, gedung megah yang belum selesai, pelayanan yang belum pernah dimulai, dan janji-janji yang sudah terkuak bahkan sebelum diucapkan. Tapi lebih dari itu semua, ada luka yang menganga di hati masyarakat Laenmanen dan warga dari beberapa kecamatan lain di wilayah perbatasan Malaka.

Mereka menyaksikan dengan getir, bagaimana sebuah fasilitas kesehatan yang seharusnya menjadi hak mereka justru dirampas demi pesta ulang tahun. Mereka tinggal jauh dari pusat kota Betun. Jalan menuju kota penuh lubang, tergenang lumpur saat hujan, berdebu tebal saat kemarau. 

Baca Juga: Viktor Laiskodat: SBS Sudah Bangun Fondasi, Jangan Sampai Malaka Mundur Lagi

Ambulans pun enggan datang, karena jalan bukan lagi jalan, tapi kubangan derita yang tidak diperbaiki. Dan yang lebih menyakitkan lagi, Jembatan Numponi, urat nadi penghubung masyarakat perbatasan ke pelayanan dasar, putus begitu saja dan diabaikan oleh Simon Nahak selama masa jabatannya.

Apa yang lebih pahit dari kenyataan bahwa sebuah rumah sakit dipindahkan bukan karena kebutuhan medis, tapi demi syahwat pencitraan? Bahwa lilin ulang tahun seorang bupati lebih terang daripada cahaya harapan dari masyarakat yang menunggu pelayanan dasar kesehatan?

Baca Juga: Malaka Pacu Pertanian: 25 Traktor Baru Tiba, Komitmen SBS-HMS Bikin Petani Tersenyum

Laenmanen adalah titik yang jauh dari sorotan, namun bukan berarti rakyatnya patut diabaikan. Mereka bukan sekedar angka di laporan statistik, mereka adalah manusia dengan tubuh yang sakit, anak-anak yang demam, perempuan yang melahirkan tanpa bidan, orang tua yang bernafas tanpa dokter. Mereka membutuhkan rumah sakit, bukan pesta untuk seorang pemimpin yang lebih sibuk mencetak baliho daripada membangun jembatan. Mereka butuh kepastian, bukan panggung sandiwara.

Simon Nahak, ketika kamu meniup lilin itu, tahukah kamu bahwa yang padam bukan hanya lilin ulang tahunmu, tapi juga harapan ribuan orang di Laenmanen, Malaka Timur, dan daerah perbatasan lain yang terus bergantung pada pelayanan kesehatan yang entah kapan datangnya?

Baca Juga: Viktor Laiskodat Puji Bupati SBS: Pemimpin Hebat Itu Melangkah dengan Riset dan Ilmu Pengetahuan

Satu tahun sudah berlalu sejak seremoni itu. Rumah Sakit Pratama Wewiku masih setengah jadi. Tak ada pelayanan, tak ada aktivitas, hanya rumput pembohong yang tumbuh dan suara jangkrik yang menggantikan hiruk pikuk harapan. Tak ada pasien, tak ada perawat. Hanya ada jejak kegagalan yang diklaim di balik papan proyek.

Kini, semua orang tahu: peresmian itu bukan untuk rakyat, melainkan untuk ego. Untuk album foto seorang pemimpin yang ingin dikenang bukan karena keberhasilannya membangun, tetapi karena kelihaian menata panggung politik.

Baca Juga: Tiga Bulan Lebih Memimpin, Ini 7 Capaian Nyata SBS-HMS di Malaka

Dan jangan salah, rakyat Malaka jangan lupa. Mereka ingat bagaimana jembatan Numponi dibiarkan rusak, bagaimana anak-anak harus melintasi sungai dengan risiko nyawa demi sekolah atau berobat. Mereka tahu siapa yang lebih mementingkan tiup lilin daripada memperbaiki akses jalan. Mereka tahu siapa yang menyulap anggaran menjadi pesta, bukan pelayanan.

Kita tidak berbicara soal politik biasa. Kita berbicara tentang dasar moral seorang pemimpin. Tentang bagaimana seseorang memilih meniup lilin di tengah kemiskinan dan keterasingan rakyatnya. Tentang bagaimana sebuah keputusan bisa menjadi pengkhianatan jika tak berpihak pada yang paling membutuhkan.

Baca Juga: Kolaborasi Pemkab Malaka dan Pemprov NTT, Jalan Betun–Motamasin Akhirnya Diperbaiki

Wewiku kini menyimpan gedung kosong, Laenmanen menyimpan luka. Dan Malaka? Malaka menyimpan catatan pahit tentang seorang pemimpin yang gagal menakar nilai tanggung jawab.

Jika kelak sejarah ditulis kembali, biarlah ini menjadi pengingat: jangan pernah memilih pemimpin yang lebih suka menyalakan lilin daripada menyalakan cahaya harapan rakyatnya.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *