RAEBESIBEWS.COM – Hamparan tanah subur yang dilintasi sungai-sungai kecil dan disiram cahaya mentari sepanjang tahun, Kabupaten Malaka berdiri sebagai bumi yang bukan hanya menumbuhkan padi dan jagung, tetapi juga menumbuhkan harapan.
Harapan itu, seperti benih, tidak tumbuh sendirian. Ia disiram oleh cinta, dipupuk oleh doa, dan dijaga dengan kesetiaan. Di balik tampuk kepemimpinan dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan Henri Melki Simu (HMS), berdiri dua sosok perempuan yang menjadi penjaga semangat dan kekuatan mereka: Beatrix Yasintha Tae dan Liem Jun Djung.
Baca Juga: Mencegah Isolasi, Membangun Harapan: Jalan Longsor di Rinhat Diperbaiki, Warga Berterima Kasih
Dua perempuan ini, dengan cara masing-masing, menjelma menjadi tiang kokoh di rumah pengabdian. Mereka bukan politisi. Mereka tidak pernah berkampanye untuk diri sendiri. Tapi pengaruh dan peran mereka menjalar ke dalam struktur kepemimpinan Malaka, senyap tapi nyata.
Mama Bea: Istri, Sahabat, dan Bunda Kabupaten
Beatrix Yasintha Tae, yang lebih dikenal dengan nama Mama Bea, adalah sosok perempuan yang sabarnya seperti tanah Malaka: menampung, menahan, dan menyuburkan.
Ia adalah istri dari dr. Stefanus Bria Seran, Bupati Malaka yang kembali terpilih untuk periode 2025–2030. Sejak tahun 2015, saat SBS pertama kali menjabat, Mama Bea sudah menyatu dengan denyut nadi kepemimpinan suaminya.
Mama Bea tidak berdiri di bawah bayang-bayang. Ia berjalan berdampingan. Dalam struktur sosial Kabupaten Malaka, ia aktif memimpin PKK, Dekranasda, dan Bunda PAUD. Ia turun ke desa-desa, mengunjungi posyandu, mendengarkan ibu-ibu muda, memeluk anak-anak kecil dengan mata yang penuh kasih.
Namun lebih dari sekadar jabatan seremonial, Mama Bea adalah kekuatan yang merawat hati SBS. Ketika Pilkada 2020 menorehkan kekalahan yang pahit, Mama Bea tetap berdiri di sampingnya. Ia tidak hanya menerima kenyataan itu, tetapi juga menyuntikkan harapan. Ia tahu: dalam politik, menang dan kalah hanya dua musim yang silih berganti.
Dan benar saja, tahun 2024 menjadi musim semi bagi SBS. Ia mencalonkan diri kembali dan—dengan dukungan rakyat serta doa tanpa henti dari sang istri, ia kembali terpilih sebagai Bupati Malaka.
Dalam setiap langkah kemenangannya, ada Mama Bea yang menenun kekuatan dari dalam rumah. Bagi SBS, Mama Bea bukan sekadar istri. Ia adalah pewaris kasih seorang ibu yang telah lama tiada, pelipur lara sekaligus kompas batin yang menunjuk arah pulang.
Baca Juga: Warga Apresiasi Pemkab Malaka: Jalan Diperbaiki, Mata Air Ikut Dilestarikan
Aci Andika: Penjaga Langkah di Balik Panggung
Di sisi lain, Henri Melki Simu, wakil bupati yang dikenal tenang dan pekerja keras, belum memiliki pasangan hidup. Namun ia tidak pernah benar-benar sendiri. Di sisinya, berjalan seorang perempuan kuat yang merawatnya dengan cinta keluarga dan pengabdian diam-diam: Liem Jun Djung, yang lebih dikenal dengan nama Aci Andika.
Sebagai sepupu HMS, Aci Andika telah menjadi pendamping utama—bukan dalam bingkai romantis, tetapi dalam ikatan darah dan kasih sayang yang mendalam. Ia adalah pemilik toko sembako UD. Andika di Kota Betun, tetapi perannya jauh melampaui urusan dagang. Sejak masa kampanye hingga pelantikan, Aci Andika adalah manajer tak resmi, pengatur logistik, penjaga dapur, dan penyambut tamu bagi HMS dan seluruh tim.
Baca Juga: Warga Apresiasi Pemkab Malaka: Jalan Diperbaiki, Mata Air Ikut Dilestarikan
Ketika orang ramai memperhatikan pidato dan strategi politik, Aci Andika memperhatikan kebutuhan harian: nasi untuk relawan, air minum untuk pendukung, ruang istirahat untuk para pejuang demokrasi. Ia tidak tampil di panggung kampanye, tapi tanpanya, kampanye itu bisa runtuh dari dalam.
Saat HMS dilantik di Istana Negara, tidak ada tangan seorang istri yang menggandengnya. Tapi di sana, berdiri Aci Andika, membawa serta haru, bangga, dan kasih yang telah ia rajut selama bertahun-tahun. Ia bukan pengganti istri, tapi pelengkap hidup HMS, perempuan yang tahu bahwa cinta tidak selalu harus dalam bentuk pernikahan.
Tugas Baru: Melayani Perempuan dan Anak Malaka
Kini, saat SBS dan HMS resmi memimpin Malaka kembali, tugas Mama Bea dan Aci Andika berubah bentuk. Dari pendamping pribadi, kini mereka juga menjadi simbol harapan publik, terutama bagi kaum perempuan dan anak-anak.
Mama Bea, dengan ketenangannya, siap kembali memimpin gerakan perempuan Malaka, memberdayakan ibu-ibu desa, memperjuangkan pendidikan anak usia dini, dan menyebarkan semangat hidup sehat keluarga. Aci Andika, dengan jejaring sosial dan ekonominya, menjadi jembatan bagi perempuan pekerja, pelaku UMKM, dan kaum ibu yang ingin mandiri di tengah tantangan ekonomi.
Keduanya tidak duduk di kursi legislatif, tapi mereka membentuk kebijakan lewat keteladanan. Mereka tidak memerintah, tetapi melayani. Dan dalam pelayanan itu, mereka menyuburkan nilai-nilai yang lebih penting dari kekuasaan: kesetiaan, kepedulian, dan kasih sayang.
Cinta yang Tak Terekam Kamera
Di malam-malam hening di Betun, mungkin Mama Bea tengah menyulam selimut untuk cucunya. Mungkin Aci Andika sedang menghitung stok sembako sambil mengingat jadwal kunjungan HMS besok. Mereka tidak butuh sorotan media. Mereka tidak meminta nama mereka diabadikan dalam prasasti.
Tapi sejarah akan mencatat. Bahwa di balik dua pemimpin Malaka, berdiri dua perempuan luar biasa—yang tidak hanya mencintai, tetapi menghidupi semangat pengabdian itu sendiri.
Karena tanah Malaka memang subur. Tapi tanpa perempuan-perempuan seperti Mama Bea dan Aci Andika, ia tak akan pernah benar-benar tumbuh.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





